Keberadaan Sekolah Selama Pandemi Covid-19

Tak seperti biasanya, semenjak pandemi penyebaran covid-19 ini serasa semua jadi kacau, bukan hanya menyerang kekebalan tubuh kita bahkan merubah schedule atau rencana yang sudah dijadwalkan. Kini ia mengacaukan semuanya salah satunya belajar kita yang semula menyenangkan menjadi menyedihkan. Kapan kondisi kembali normal? Dalam tiga bulan pertama 2020 saja, Covid-19 telah mengubah wajah dunia dalam skala yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun jalan menuju kondisi normal dipercaya tidak akan sesingkat itu.


Bagaimana dengan sekolah ? mungkinkah menjadi gedung tua ? gedung yang biasanya penuh dengan keramaian, gedung yang sebelumnya selalu membuat cerita canda tawa, suka duka bersama teman-teman saya, kini harus berdiri seperti museum tanpa pengunjung.


"Kalau begini terus, bisa-bisa sekolah punah dari muka bumi! Dan sekolah offline bisa punah kalau proses belajar mengajar tidak bisa terlaksana”


Kenapa bisa punah?

Karena ketidakjelasan mengenai kapan proses belajar mengajar di sekolah aktif kembali. Karena social distancing dan physical distancing kemungkinan #studyathome akan diperpanjang sampai akhir Juni 2020 atau mungkin lebih dari itu, kalau tidak ada penurunan jumlah orang terpapar. Ketidakjelasan mengenai kapan bisa belajar kembali di sekolah menjadi hal yang membingungkan, sehingga kalau berlangsung berlarut-larut, keberadaan sekolah pun dipertanyakan

 

Apakah sekolah akan punah karena corona?

Kemungkinan tidak, kalau vaksin antivirus covid-19 sudah ditemukan. Kita tetap dukung dalam doa, semoga para ilmuwan dapat secepat mungkin menemukan vaksinnya supaya hidup kembali normal.


Kalau belum ada vaksinnya, sepertinya sekolah akan tetap menjadi tempat yang sunyi entah sampai kapan, dan pendidikan akan beralih ke daring semua, menjadi sekolah online. Punah dalam arti yang sebenarnya mungkin tidak, namun sekolah kemungkinan hanya akan menjadi "tempat persinggahan" orangtua murid yang meminta ijazah kelulusan putra-putri mereka. Dan itu sepertinya terjadi.


Saat mendikbud menyerukan anak sekolah dan mahasiswa belajar di rumah, di rumah saja dengan tetap mengerjakan tugas-tugas akademik secara online, rasanya semakin resah dan gelisah. Resah soal ekonomi yang mengharuskan kita untuk membeli kuota internet dan juga kurang memahami penjelasan yang disampaikan oleh guru.

Akan tetapi keadaan ini juga mempunyai sisi positif dalam kegiatan proses belajar mengajar kita, dimana keadaan ini mengharuskan para guru untuk mengoprasikan program komputer dan mampu menggunakan aplikasi yang kekinian itu. guru yang sebelumnya awan internet apalagi mengoprasikan aplikasi kini harus belajar dan bisa dengan waktu yang bisa dibilang singkat.


Kemudian sisi positif bagi siswa salah satu adalah tidak menghabiskan kuota internetan dengan sia-sia, kuota yang mungkin sebelumnya mereka habiskan untuk bermain game online ataukah media social seperti facebook,twitter,instagram kini harus harus menghabiskannya untuk searching materi pembelajaran dan tugas yang diberikan guru.


Jadi saran saya adalah jangalah resah dan gelisah dengan keadaan ini meskipun itu pasti ada karena itu hanya caranya  yang berbeda bukan berarti merubah tujuan yang semula kita rencanakan, seperti kata pribahasa bahwa hasil tidak pernah menghiati prosesnya.

Itulah bencana,itulah cobaan dan uijian bagi kita yang kita tidak pernah undang dan tahu kapan datang dan perginya. Namun sebagai generasi pejuang dan penerus bangsa ini ,tetaplah tegar dalam menghadapi bencana dan cobaan ini jangan jadikan itu penghalang kita untuk tidak belajar dan melalaikan ilmu pengetahuan.

 

#stayathome

#stayhealthy

 

Aprilia Nurul Gina : X Otkp3